Home > Event > ...

Festari Smakenza 2025: Panggung Kreativitas dan Cinta Budaya


Gemerlap panggung dan alunan musik tradisional hingga kontemporer memenuhi Aula SMK Negeri 1 Balikpapan. Selama dua hari, pada 3–4 Juni 2025, seluruh siswa-siswi kelas 10 SMKN 1 Balikpapan—mulai dari yang bertugas sebagai panitia hingga penari—melaksanakan ujian praktik Seni Budaya yang dikemas dalam sebuah acara bertajuk Festari Smakenza—singkatan dari Festival Tari SMKN 1 Balikpapan.


Lebih dari sekadar ujian kenaikan kelas, Festari Smakenza menjadi ajang apresiasi dan perayaan kekayaan budaya Nusantara, yang dihidupkan lewat karya tari dan musik penuh kreativitas. Acara ini terbuka untuk umum, dengan tarif tiket sebesar Rp.15.000. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Festari 2025 terkesan lebih membangkitkan kreativitas dari siswa-siswi kelas 10. Mulai dari pembuatan kostum, properti, poster, sampai konten promosi seperti video trailer.


"Festari tahun ini benar-benar di luar ekspektasi Ibu, karena seperti yang sudah Ibu ajarkan pada setiap kelas, dari tahun sebelumnya untuk dilarang menyewa baju tari. Tapi teman-teman yang lain malah berkreasi sendiri. Mereka pada handmade, ada juga yang menggunakan jasa penjahit. mereka benar-benar memanfaatkan bahan bekas seperti karung goni, karung beras, dan kardus,"


"Dari trailer, Ibu kira kalian tidak akan semewah itu, tapi ternyata benar-benar di luar dugaan. Malah ada kelompok yang trailernya lebih bagus daripada penampilan tarinya." ungkap Bu Vivi, selaku guru Seni Budaya dan juga pembimbing di Festari 2025.


Terdapat sedikit kesalahpahaman dalam pencetakan poster. Sebenarnya, Bu Vivi menjelaskan bahwa poster menggunakan kertas berukuran A4, di mana 1 gambar poster diisi dengan 4 lembar kertas berukuran A4 yang disusun seperti puzzle. Tetapi karena adanya miskomunikasi antara panitia dan peserta, para peserta malah mencetak 1 gambar poster di selembar kertas A4.


Kehadiran dari berbagai penampilan kelompok membawa arti dan tujuan masing-masing. Contohnya, "Leang Belhoq" penampilan tari dari kelas 10 GP 1 Kelompok 1. "Arti dari tarian ini adalah seorang istri yang membunuh bayinya, tetapi suaminya marah karena tidak terima dengan perlakuan istrinya tersebut. Arwah bayinya pun bergentayangan dan merasuki penari-penari yang ada. Makanya tadi ada gerakan penari seperti orang gila. Bayi itu dibunuh, dan akhirnya dimakan oleh penari-penari," penjelasan dari para penari Leang Belhoq. Usaha mereka membuat trailer dan poster cukup totalitas. "Kami mencari tempat yang memiliki background hutan seperti Hutan Kota, Pantai Monpera, dan di atas Benakutai. Juga di Dome, untuk latar poster," ungkapnya.


Tak hanya itu, kami juga mendapatkan pernyataan dari Pimpro—Pimpinan Proyek— dari kelas 10 TAB 2, yang menceritakan perjalanan kelompoknya dalam menyiapkan tarian bertema kehidupan petani. Tarian ini ditampilkan oleh 5 orang, namun awalnya kelompok tersebut memiliki lebih banyak anggota. Karena adanya beberapa anggota yang kurang aktif, mereka terpaksa membentuk kelompok baru.


"Karena adanya beberapa oknum yang kayak males-malesan, jadi Bu Nanik menyuruh bikin kelompok baru, isinya tujuh orang," jelas Pimpro. "Tema kehidupan petani ini sudah dirancang sejak awal dan merupakan hasil kesepakatan kelompok lama. Proses latihan memakan waktu 2-3 minggu secara intens. Karena kekurangan orang, beberapa peran yang seharusnya dilakukan oleh beberapa orang jadi harus ditanggung oleh 1 orang saja, ini adalah tantangan tersendiri dalam proses latihan." Tambahnya.


Antusiasme penonton juga menjadi sorotan utama, apalagi setiap tahunnya ujian praktek seni budaya selalu terbuka untuk umum. Ini menjadi salah satu tantangan terbesar panitia inti Festari bagian Ticketing. "Khusus warga Smakenza kan gratis ya, tapi banyak banget orang luar yang memakai seragam Smakenza seolah-olah warga Smakenza. Jadi kita harus benar-benar teliti dan memastikan ini anak Smakenza atau bukan." Sebelum ada di hari acara, panitia di bidang Ticketing sudah memprediksi.


"Karena SMK 1 ini tidak cuma sekali bikin event atau ujian seni budaya yang terbuka untuk warga luar ya, cara kami mengetahui itu orang luar apa tidak adalah dengan memperhatikan mukanya, dan bagi yang perempuan kami melihatnya dari jilbab sih, kan ini jam sekolah dan lagi ujian juga, warga Smakenza tidak mungkin tidak pakai jilbab di area sekolah, kelihatan banget gerak-geriknya kalau lagi nyamar."


"Momen paling seru di Panitia ini mungkin pas mau ishoma ya, kita jadi pada solid banget buat minta makan, dan di akhir acara pasti ada bersih-bersih ya, disitu kita benar-benar kerja sama banget. Untuk kritik, terdapat beberapa struggle di bagian sound pada beberapa kelompok."


Festari bukan sekadar ujian praktek, melainkan wadah pembelajaran, kerja sama, dan perayaan budaya. Melalui proses ini, siswa tak hanya dinilai dari hasil, tetapi juga dari perjalanan mereka memahami dan mencintai seni. Harapannya, Festari dapat terus menjadi agenda tahunan yang mengembangkan kreativitas serta menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya Nusantara.

Tags :

#SNIPedia

Ditulis oleh :

Messi Almeshia Wangke