Home > Other > ...

Sang Penyair

Widji Widodo atau biasa di kenal dengan nama Widji Thukul. Ia adalah seorang penyair, seniman teater sekaligus aktivis. Ia lahir pada 26 Agustus 1963 di Sorogenen, Solo, Jawa Tengah. Thukul adalah seorang anak yang terlahir di keluarga yang sederhana. Ia hidup di kalangan masyarakat menengah kebawah sehingga ia bisa merasakan sulitnya pada zaman tersebut.


Ia menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 3 Sorogenen, Solo. Sejak kecil bakatnya dalam membaca dan menulis sudah terlihat. Lalu ia memulai pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 5 Surakarta, ia mulai aktif mengikuti kegiatan kesenian, terutama puisi dan teater. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan menengah atas di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia di Surakarta dan mengambil jurusan tari.


Namun sayangnya ia tak bisa menyelesaikan pendidikannya dikarenakan kendala ekonomi. Walaupun putus sekolah, ia tetap belajar secara otodidak dibidang sastra, musik, dan teater. Ia juga aktif di sanggar-sanggar seni, terutama di Teater Jagat dan kemudian membentuk kelompok Seni Rakyat.


Widji Thukul menikah dengan Siti Dyah Sujirah yang akrab di panggil Sipon pada tahun 1983. Pada 1986 mereka dikaruniai anak pertama mereka yang bernama Fitria Widyaningrum, dan disusul dengan anak keduanya pada 1991 yang bernama Fajar Merah.


Karya Puisi Widji Thukul

Widji Thukul sudah memiliki banyak karya puisi. Berikut adalah beberapa karyanya yang cukup terkenal:

• Puisi Pelo (1991)

• Darman dan Lain-lain (1994)

• Aku Ingin Jadi Peluru (1999)

• Peringatan! (yang terkenal dengan kutipan "Hanya ada satu kata, LAWAN!")


Pada masa Orde Baru Widji Thukul adalah salah satu aktivis penggerak massa yang sangat berpengaruh. Ia menggunakan puisi-puisinya untuk membakar semangat rakyat yang sudah muak akan kesengsara. Karena karya-karyanya dianggap terlalu keras dan membahayakan kekuasaan rezim Orde Baru, ia pun sering diawasi gerak-geriknya oleh para aparat.


Pernah suatu kali, saat terlibat dalam aksi buruh, ia dipukuli oleh aparat hingga mengalami luka serius di wajah dan kepalanya. Pada 27 Juli 1996, Thukul masuk kedalam daftar buronan aparat. Ia berpindah-pindah kota, dari Jakarta, Yogayakarta, hingga Kalimantan untuk menghindari penangkapan. Di Kalimantan ia mengganti identitasnya menjadi Paul.


Setelah ia melarikan diri, anak dan istrinya juga mengalami tekanan dari intelejen. Rumah mereka sering didatangi oleh orang yang tak di kenal. Pada awal 1998, situasi semakin memanas. Ia dikabarkan sakit-sakitan karena tekanan hidup dalam pelarian. Menjelang lengsernya Soeharto, beberapa aktivis pro-demokrasi diculik dan hilang. Widji Thukul adalah salah satu aktivis yang hilang dan tidak berkabar sampai sekarang...


"Apa Guna"

Karya: Widji Thukul


Apa guna punya ilmu tinggi

Kalau hanya untuk mengibuli

Apa guna banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu


Di mana-mana

Moncong senjata

Berdiri gagah

Kongkalikong dengan kaum cukong


Di desa-desa

Rakyat dipaksa

Menjual tanah

Tapi, tapi, tapi, tapi dengan harga murah

Ditulis oleh :

Syahmi Daniswara