Home > Other > ...
Tragedi Santa Cruz 12 November 1991
Tragedi Santa Cruz ini atau biasa disebut dengan pembantaian dilli adalah peristiwa penembakan yang dilakukan oleh tentara Indonesia terhadap pengunjuk rasa pro-kemerdekaan Timor Timur, dan mengakibatkan kurang lebih 250 korban jiwa yang di makamkan di pemakaman Santa Cruz.
Tragedi ini bermula dijadwalkannya delegasi anggota parlemen Portugal dan 12 wartawan yang akan berkunjung ke Timor Timur pada bulan Oktober 1991.
Mendengar hal tersebut para mahasiswa pro-kemerdekaan sangat antusias berharap dengan datangnya delegasi dan 12 wartawan dapat membantu mereka menyuarakan isu-isu perjuangan di Timor Timur.
Namun, rencana mereka sudah diketahui dan digagal kan oleh pemerintah Indonesia. Para pemuda Timor Leste yang sudah mempersiapkan sambutan dengan membuat spanduk penyambutan terus diawasi gerak-geriknya oleh TNI.
Lalu pada malam 27 Oktober 1991, sekelompok provokator yang bekerja untuk intelijen Indonesia memancing keributan dengan aktivis pro-kemerdekaan dan di malam itu juga terjadilah bentrok antara mereka, keesokan harinya, pagi 28 Oktober 1991 ditemukan jasad Sebastio Gomez seorang aktivis pro-kemerdekaan, di dekat gereja Moteal yang ditembak mati oleh tentara ABRI.
Saat iring-iringan untuk memakamkan Sebastio Gomez ke TPU, sudah terdapat 200 TNI yang dikerahkan untuk mengepung mereka dengan membawa senjata. Di dalam TPU para tentara mulai menembaki tanpa hati, sedikitnya ada 250 sipil Timor Timur tak bersenjata menjadi korban jiwa dan menewaskan warga negara Selandia Baru, Kamal Bamadhaj, seorang mahasiswa ilmu politik dan aktivis HAM asal Australia.
Pembantaian berdarah ini disaksikan langsung oleh dua jurnalis Amerika Serikat, Amy Goodman dan Allan Nairn, dan direkam oleh Max Stahl.
Diam-diam Max Stahl membuat liputan untuk Yorkshire Television di Britania Raya, isi video tersebut memperlihatkan porak-poranda dan kerusuhan yang terjadi, bahkan saat 2 jurnalis berusaha melindungi sipil Timor Timur mereka juga dipukuli dengan senapan dan membuat tengkorak salah satu mereka retak.
Video ini ditayangkan dalam dokumenter First Tuesday berjudul In Cold Blood: The Massacre of East Timor di ITB Britania Raya pada Januari 1992.
Pemerintah Indonesia yang melakukan genosida terhadap Timor Timur mengeklaim insiden ini merupakan reaksi spontan atas kekerasan oleh pengunjuk masa atau "kesalahan pahaman" semata, sejumlah pihak membantahnya dengan dua alasan utama: TNI berkali-kali terbukti melakukan kekerasan massal di berbagai tempat, lalu politikus dan perwira Indonesia selalu mengeluarkan pernyataan yang membenarkan tindak kekerasan ABRI. Dua hari setelah ini, Try Sutrisno, panglima ABRI, mengatakan "Tentara tidak bisa diremehkan, pada akhirnya kami harus menembak, mereka perusuh seperti ini harus ditembak, dan mereka pasti kami tembak".
Kejadian 12 November ini diperingati sebagai Hari Pemuda oleh Negara Timor Leste yang merdeka. Tragedi Pembantaian Santa Cruz itu dikenang oleh mereka sebagai salah satu hari paling berdarah dan mencekam dalam sejarah mereka, yang memberikan perhatian internasional bagi perjuangan mereka untuk merebut kemerdekaan.